Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil
Pendahuluan
Pandangan hidup atau worldview, pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah tiga faktor penting dalam pembentukan sebuah peradaban. Kaitan antara
ketiga faktor tersebut merupakan vicious circle (lingkaran setan). Artinya pandangan hidup dapat lahir dan berkembang dari akumulasi ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui proses pendidikan. Sebaliknya bentuk pendidikan dan corak ilmu pengetahuan yang diajarkan juga ditentukan oleh karakter pandangan hidup suatu bangsa atau peradaban. Pandangan hidup yang memiliki elemen kepercayaan terhadap Tuhan, misalnya, sudah tentu akan menerima pengetahuan non-empiris. Sebaliknya pandangan hidup yang mengingkari eksistensi Tuhan akan menafikan pengetahuan non-empiris dan pengetahuan spiritual lainnya. Demikian pula pandangan hidup ateis akan menganggap sumber pengetahuan moralitasnya hanyalah sebatas subyektifitas manusia dan bukan dari Tuhan.[1] Dalam Islam, ilmu pengetahuan terbentuk dan bersumber dari pandangan hidup Islam, yang berkaitan erat dengan struktur metafisika dasar Islam yang telah terformulasikan sejalan dengan wahyu, hadith, akal, pengalaman dan intuisi.[2] Pembentukan itu sudah tentu melalui proses pendidikan. Namun, karena pengaruh pandangan hidup Barat melalui Westenisasi dan globalisasi pendidikan Islam kehilangan perannya dalam mengaitkan ilmu pengetahuan dengan pandangan hidup Islam.
Pengertian worldview
Terma yang umum digunakan untuk memaknai pandangan hidup adalah worldview (Inggeris), weltanschauung atau weltansicht (Jerman), terkadang juga disebut paradigma.[3] Dalam pemikiran Islam terma yang digunakan bermacam-macam seperti yaitu al-taÎawwur al-IslÉmÊ, al-Mabda’ al-IslÉmÊ, IslÉmÊ NaÐariyat, dan juga ru’yat al-Islam lil wujËd, terkadang dipakai juga terma naÐariyyat al-IslÉm li al-kawn. Istilah ini netral sifatnya, sebab ia masih perlu diberi kata sifat Islam. Oleh sebab itu untuk memudahkan artikulasi peristilahan dalam diskursus ini, istilah worldview atau pandangan hidup dipakai sebagai kata pinjaman. Sudah tentu istilah asing ini akan mengalami perubahan definisinya ketika ia diberi kata sifat Islam, Krsiten, Barat,[4] dsb. Artinya istilah ini bisa dipakai untuk agama apapun dan peradaban manapun juga. Seperti al-Mabda’ al-Shuyu’i, Western worldview, Christian worldview, Hindu worldview dll. Disini kata sifat Islam, Barat, Kristen, Hindu dll., digunakan untuk pembeda. Untuk memahami lebih jauh makna worldview akan dipaparkan definisi-definisi worldview secara umum dan definisi khusus yang diberikan oleh para ilmuwan Muslim.
Ninian Smart, pakar kajian perbandingan agama, memberi makna worldview dalam konteks perubahan sosial dan moral. Worldview adalah “kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang befungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.”[5] Secara filosofis Thomas F Wall, memaknai worldview sebagai “sistim kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas, dan tentang makna eksistensi”.[6] Dalam bidang yang sama Alparslan Acikgence memaknai worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas-aktifitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktifitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, artinya aktifitas manusia dapat direduksi kedalam pandangan hidup itu.[7]
Ada tiga poin penting dari ketiga definisi diatas, yaitu bahwa worldview adalah motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktifitas ilmiah. Dalam konteks sains, hakekat worldview dapat dikaitkan dengan konsep “perubahan paradigma” gagasan Thomas S Kuhn[8] oleh Edwin Hung juga dianggap sebagai weltanschauung Revolution (revolusi pandanan hidup). Sebab paradigma menyediakan konsep nilai, standar-standar dan metodologi-metodologi, atau ringkasnya merupakan worldview dan framework konseptual yang diperlukan untuk kajian sains.[9]
Jadi worldview, dari ketiga definisi diatas, adalah tolok ukur untuk membedakan antara suatu peradaban dengan peradaban yang lain. Bahkan dari dua definisi terakhir menunjukkan bahwa worldview melibatkan aktifitas epistemologis manusia. Sebab ia merupakan faktor penting dalam aktifitis penalaran manusia.
Dalam tradisi Islam klasik tidak ditemukan terma khusus untuk pengertian worldview, meski tidak berarti bahwa para ulama tidak memiliki asas yang sistemik untuk memahami realitas. Para ulama abad 20 menggunakan terma khusus untuk pengertian worldview ini, meskipun berbeda antara satu dengan yang lain. Maulana al-Mawdudi mengistilahkannya dengan Islami nazariat (Islamic Vision), Sayyid Qutb menggunakan istilah al-TaÎawwur al-IslamÊ (Islamic Vision), Mohammad AÏif al-Zayn menyebutnya al-Mabda’ al-IslÉmÊ (Islamic Principle), Prof. Syed Naquib al-Attas menamakannya Ru’yatul Islam lil wujËd (Islamic Worldview). Meskipun istilah yang dipakai berbeda-beda pada umumnya para ulama tersebut sepakat bahwa Islam mempunyai cara pandangnya sendiri terhadap segala sesuatu. Untuk menunjukkan bahwa penambahan kata sifat “Islam” untuk kata worldview dapat merubah makna etimologis dan terminologisnya, berikut ini akan dipaparkan definisi-definisi yang diajukan oleh para ilmuwan Muslim:
Istilah Islami Nazariyat (Islamic Vision) bagi al-Mauwdudi berarti “pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. Sebab shahadah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupannya secara menyeluruh”.[10] Worldview dalam istilah Shaykh Atif al-Zayn adalah al-Mabda’ al-IslÉmÊ yang lebih cenderung merupakan kesatuan iman dan akal dan karena itu ia mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah yaitu kepercayaan yang berdasarkan pada akal.[11] Sebab baginya iman didahului dengan akal. Sayyid Qutb memahami dari perspektif teologis dan juga metafisis mengartikannya dengan al-tasawwur al-Islami, yang berarti sebagai “akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.”[12] S.M.Naquib al-Attas mengartikan worldview Islam sebagai pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al-Islam lil-wujud).[13]
Poin penting yang dapat ditangkap dari definisi keempat tokoh diatas adalah bahwa pandangan hidup Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang menjelaskan tentang hakekat wujud yang berakumulasi dalam akal pikiran dan memancar dalam keseluruhan kegiatan kehidupan umat Islam di dunia. Pandangan-pandangan diatas telah cukup baik menggambarkan karakter Islam sebagai suatu pandangan hidup yang membedakannya dengan pandangan hidup lain.
Namun, kajian lebih lanjut terhadap pemikiran dibalik definisi para ulama tersebut akan menunjukkan orientasi yang berbeda. Al-Maududi lebih mengarahkan kepada kekuasaan politik. Shaykh Atif al-Zayn dan Sayyid Qutb lebih cenderung mamahaminya sebagai seperangkat doktrin kepercayaan yang rasional yang implikasnya adalah ideologi, meski Qutb menambahkan aspek metafisis. Naquib al-Attas lebih cenderung kepada makna metafisis dan epistemologis. Sebab Islam diletakkan sebagai subyek, sedangkan realitas atau wujËd dalam pengertian yang luas di posisikan sebagai obyek.
Pandangan hidup Islam dan Barat
Untuk membedakan antara pandangan hidup Islam dan Barat, kita perlu mengidentifikasi elemen masing-masing. Sebab dari elemen-elemen inilah nantinya akan diketahui bentuk ilmu pengetahuan yang akan diderivasi daripadanya.
Secara umum disana terdapat beberapa kesamaan elemen asas antara satu peradaban dan peradaban lain. Bagi Thomas Wall, elemen pandangan hidup terdiri dari pemahaman individu terhadap enam bidang pembahasan yaitu Tuhan, Ilmu, realitas, Diri, etika, masyarakat.[14] Ninian Smart juga menetapkan enam elemen worldview yang ia sebut sebagai dimensi agama: doktrin, mitologi, etika, ritus, pengalaman dan kemasyarakatan.[15] Sementara itu Naquib Al-Attas menetapkan bahwa elemen asas bagi worldview Islam adalah konsep tentang hakekat Tuhan, tentang Wahyu (al-Qur’an), tentang penciptaan, tentang hakekat kejiwaan manusia, tentang ilmu, tentang agama, tentang kebebasan, tentang nilai dan kebajikan, tentang kebahagiaan.[16]
Dari ketiga pemikir tersebut diatas sekurangnya kita bisa mengidentifikasi bahwa mereka hampir sepakat bahwa 5 elemen penting worldview adalah konsep Tuhan, konsep realitas, konsep ilmu, konsep etika atau nilai dan kebajikan, dan konsep tentang diri manusia. Namun spektrum makna worldview Wall dan Smart menjadi terbatas ketika keduanya tidak menjadikan konsep wahyu, penciptaan, agama dan kebahagiaan sebagai elemen wordview seperti konsep al-Attas. Disini al-Attas bahkan menekankan bahwa pandangan hidup berperan dalam cara menafsirkan apa makna kebenaran (truth) dan realitas (reality) dan juga dalam menentukan apakah sesuatu itu benar dan riel. Semuanya itu tergantung kepada sistim metafisika masing-masing yang terbentuk oleh worldview.[17] Disini sekali lagi kita menangkap bahwa pandangan hidup lebih banyak berkaitan dengan epistemologi daripada dengan ideologi. Lebih teknis lagi Prof. Alparslan menjelaskan bahwa worldview Islam adalah “visi tentang realitas dan kebenaran, berupa kesatuan pemikiran yang arsitektonik, yang berperan sebagai asas yang tidak nampak (non-observable) bagi semua perilaku manusia, termasuk aktifitas ilmiah dan teknologi”.[18] Artinya standar suatu peradaban dalam menentukan apa yang disebut riel dan apa yang disebut benar, akan mempengaruhi perilaku manusianya, termasuk mempengaruhi kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk lebih jelas lagi, tentang bagaimana prinsip pandangan hidup Islam dalam menentukan realitas dan kebenaran dibandingkan dengan Barat, al-Attas memerincikan perbandingan itu dengan jelas. [19] Agar mudah dipahami tabulasi berikut ini dapat membantu:
| WORLDVIEW ISLAM | WORLDVIEW BARAT | |
| 1 | Prinsip: Tawhidi | Prinsip: dichotomic |
| 2 | Asas:
Wahyu, hadith, akal, pengalaman dan intuisi. |
Asas:
Rasio, spekulasi filosofis. |
| 3 | Sifat:
otentisitas dan finalitas |
Sifat:
rasionalitas, terbuka dan selalu berubah |
| 4 | Makna realitas: berdasarkan kajian metafisis | Makna realitas: pandangan sosial, kultural, empiris |
| 5 | Obyek kajian:
visible & invisible |
Obyek kajian:
tata nilai masyarakat |
Teori pembentukan pandangan hidup
Sebenarnya cara bagaimana seorang individu berproses memiliki pandangan hidup (worldview) cukup beragam dan dengan keragaman proses tersebut berbeda-beda pula bentuk dan sifat worldview yang dihasilkannya. Proses pembentukan worldview hampir tidak beda dengan proses pencarian pengetahuan. Worldview terbentuk dari adanya akumulasi pengetahuan dalam fikiran seseorang, baik a priori maupun a posteriori,[20] konsep-konsep serta sikap mental yang dikembangkan oleh seseorang sepanjang hidupnya. Bagi Wall akumuluasi pengetahuan yang ia sebut epistemological beliefs itu sangat berpengaruh terhadap pembentukan worldview kita, namun yang sangat menentukan terbentuknya worldview baginya adalah metaphysical belief.[21] Bagi Alparslan worldview lahir dari adanya konsep-konsep yang mengkristal menjadi kerangka fikir (mental framework).[22] Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: ilmu pengetahuan yang diperoleh seseorang itu terdiri dari ide-ide, kepercayaan, aspirasi dan lain-lain yang membentuk konsep. Konsep-konsep itu membentuk suatu totalitas yang saling berkaitan dan terorganisasikan dalam suatu jaringan (network) dalam pikiran kita. Jaringan ini membentuk struktur berfikir yang koheren dan dapat disebut suatu keseluruhan yang saling berhubungan “achitectonic whole”. Keseluruhan konsep yang saling berhubungan inilah yang membentuk pandangan hidup seseorang.[23] Dalam kasus Islam, pengetahuan yang membentuk totalitas konsep itu berasal dari sumber-sumber ilmu pengetahuan Islam.
Proses pembentukan pandangan hidup sejalan dengan proses pembentukan elemen-elemen pokok yang merupakan bagian dari struktur pandangan hidup itu. Struktur worldview hampir serupa dengan elemen worldview dan disini terdapat sedikitnya lima bagian penting yaitu: struktur atau konsep 1) tentang kehidupan, 2) tentang dunia, 3) tentang pengetahuan 4) tentang nilai dan 5) tentang manusia.[24]
Proses terbentuknya struktur worldview ini bermula dari pandangannya terhadap kehidupan (konsep tentang kehidupan), termasuk didalamnya cara-cara manusia menjalani kegiatan kehidupan sehari-hari, sikap-sikap individual dan sosialnya, dan sebagainya. Konsep tentang dunia adalah pandangannya terhadap dunia dimana manusia hidup. Konsep tentang ilmu pengetahuan adalah hasil dari pandangannya terhadap dunia, atau dapat dikatakan sebagai pengembangan dari konsep dunia. Gabungan dari konsep kehidupan, konsep dunia dan konsep pengetahuan ini melahirkan struktur atau konsep nilai dan moralitas. Setelah keempat struktur itu terbentuk dalam pandangan hidup seseorang secara transparent, maka konsep tentang manusia akan terbentuk secara otomatis.
Meskipun proses akumulasi kelima struktur diatas dalam pikiran seseorang tidak selalu berurutan seperti yang disebut diatas, tapi yang perlu dicatat bahwa kelima struktur itu pada akhirnya menjadi suatu kesatuan konseptual dan berfungsi tidak saja sebagai kerangka umum (general scheme) dalam memahami segala sesuatu termasuk diri kita sendiri, tapi juga mendominasi cara berfikir kita. Disini dalam konteks lahirnya ilmu pengetahuan di masyarakat, struktur pengetahuan merupakan asas utama dalam memahami segala sesuatu. Ini berarti bahwa teori atau konsep apapun yang dihasilkan oleh seseorang dengan pandangan hidup tertentu akan merupakan refleksi dari konsep-konsep diatas.
Teori ini berlaku secara umum pada semua kebudayaan dan dapat menjadi landasan yang valid dalam menggambarkan timbul dan berkembanganya pandangan hidup manapun, termasuk pandangan hidup Islam. Berarti, kegiatan keilmuan apapun baik dalam kebudayaan Barat, Timur maupun peradaban Islam dapat ditelusur dari pandangan hidup masing-masing.
Teori pembentukan pandangan hidup Islam, dapat ditelusuri dari sejarah tradisi keilmuan Islam. Perlu dicatat bahwa dalam al-Qur’an telah terdapat struktur atau konsep umum tentang ilmu pengetahuan. Seperti biasa, karena suatu tradisi selalu melibatkan masyarakat maka tradisi keilmuan Islam, juga melibatkan komunitas ilmuwan. Bukti adanya masyarakat ilmuwan yang menandai permulaan tradisi keilmuan dalam Islam adalah berdirinya kelompok belajar atau sekolah AÎÍÉb al-Øuffah di Madinah.[25] Disini kandungan wahyu dan hadith-hadith Nabi dikaji dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif. [26] Meski materinya masih sederhana tapi karena obyek kajiannya[27] tetap berpusat pada wahyu, yang betul-betul luas dan kompleks.
Oleh karena itu materi kajiannya tidak dapat disamakan dengan materi diskusi spekulatif di Ionia, yang menurut orang Barat merupakan tempat kelahiran tradisi intelektual Yunani dan bahkan kebudayaan Barat (the cradle of western civilization). Yang jelas, AÎÍÉb al-Øuffah, adalah gambaran terbaik institusionalisasi kegiatan belajar-mengajar dalam Islam dan merupakan tonggak awal tradisi intelektual dalam Islam.[28] Hasil dari kegiatan ini adalah munculnya, katakan, alumni-alumni yang menjadi pakar dalam hadith Nabi, seperti misalnya AbË Hurayrah, AbË Dharr al-GhiffÉri, SalmÉn al-FÉrisi, ‘Abd AllÉh ibn Mas’Ëd dan lain-lain. Ribuan hadith telah berhasil direkam oleh murid-murid sekolah ini. Kegiatan awal pengkajian wahyu dan hadith ini dilanjutkan oleh generasi berikutnya dalam bentuk yang lain. Dan tidak lebih dari dua abad lamanya telah muncul ilmuwan-ilmuwan terkenal[29] dalam berbagai bidang studi keagamaan.
Komunitas yang menghasilkan dan dihasilkan oleh lembaga pendidikan AÎÍÉb al-Øuffah melahirkan kerangka konsep keilmuan Islam (Islamic scientific conceptual scheme) yang merupakan framework yang mempunyai peran penting dalam tradisi keilmuan itu.[30] Indikasi adanya kerangka konseptual ini adalah usaha-usaha para ilmuwan untuk menemukan beberapa istilah teknis keilmuan yang rumit dan canggih,[31] menunjukkan adanya kerangka konsep keilmuan. Dari keseluruhan istilah teknis tersebut istilah ‘ilm, yang berulang kali disebut dalam berbagai ayat al-Qur’an,[32] adalah istilah sentral yang berkaitan dengan keseluruhan kegiatan belajar mengajar.
Ilmu pengetahuan Islam dan pendidikan
Istilah ‘ilm itu sejatinya adalah ilmu pengetahuan wahyu itu sendiri atau sesuatu yang di derivasi dari wahyu atau yang berkaitan dengan wahyu, meskipun kemudian dipakai untuk pengertian yang lebih luas dan mencakup pengetahuan manusia. Bahkan dalam istilah ‘ilm terkandung kelima konsep dasar yang menjadi asas pandangan hidup. Sentralitas ilmu dalam peradaban Islam digambarkan dengan oleh F.Rosenthal sbb:
..‘ilm is one of those concept that have dominated Islam and given Muslim civilization its distinctive shape and complexion. In fact there is no other concept that has been operative as determinant of Muslim civilization in all its aspects to the same extent as ‘ilm.[33]
(Artinya ilmu adalah salah satu konsep yang mendominasi Islam dan yang memberi bentuk dan karakter yang khas terhadap peradaban Muslim. Sebenarnya tidak ada konsep lain yang setanding dengan konsep ilmu yang secara efektif menjadi (faktor) penentu dalam peradaban Muslim dalam berbagai aspek)
Kutipan ini mendukung prinsip bahwa peradaban Islam dibangun atas dasar ilmu pengetahuan yang bersumber dari wahyu. Implikasinya, kemunduran ummat Islam yang terjadi secara beruntun sejak beberapa abad belakangan ini, disebabkan oleh kerancuan ilmu (corruption of knowledge) dan lemahnya penguasaan ummat terhadap ilmu pengetahuan. Karena kerancuan ‘ilmu dan penguasaan terhadap ilmu lah maka ummat Islam menghadapi berbagai masalah dibidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Pandangan ini berbeda secara mendasar dari pendapat-pendapat yang bersifat umum yang mengatakan bahwa kemunduran ummat Islam disebabkan oleh kekalahan politik, lemahnya ekonomi, rusaknya budaya atau rendahnya mutu pendidikan, yang sebenarnya hanyalah merupakan bola salju dari problem ilmu pengetahuan.
Problem kerancuan ilmu pengetahuan sudah tentu hanya dapat diselesaikan melalui pembenahan ilmu pengetahuan. Dan hal ini hanya dapat dilakukan melalui lembaga pendidikan. Karena ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan pananan hidup, maka yang perlu diperhatikan oleh lembaga pendidikan Islam adalah penanaman elemen-elemen pandangan hidup Islam kedalam kurikulum pendidikan.
Seperti disebutkan diatas, elemen pandangan hidup Islam terdiri terutamanya dari konsep-konsep tentang kehidupan, tentang dunia, tentang pengetahuan, tentang nilai dan tentang manusia. Konsep-konsp ini dapat digali dari sumber pengetahuan Islam, yaitu wahyu dan penafsiran para ulama dalam tradisi intelektual Islam. Jika konsep-konsep digali dengan mendalam, maka pada gilirannya akan membentuk apa yang disebut “struktur konseptual keilmuan” (scientific conceptual scheme) yang dapat menjadi filter bagi adopsi-adapsi konsep-konsep asing. Konsep-konsep ini pulalah sebenarnya yang mempunyai peran aktif dalam proses Islamisasi Ilmu pengetahuan kontemporer.
Pendidikan sebagai Ta’dib
Sebenarnya istilah yang komprehensif untuk pendidikan Islam, seperti yang ditemukan oleh al-Attas adalah ta’dib. Konsep ini meliputi makna dalam istilah tarbiyah dan ta’lim. Dalam sejarah Islam proses pendidikan Muslim lebih cenderung kepada pengertian ta’dib daripada tarbiyah atau ta’lim. Istilah adab sudah berkonotasi ilmu, sebab ilmu tidak dapat diajarkan atau ditularkan kepada anak didik kecuali jika orang tersebut mempunyai adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Konsep pendidikan Islam yang selama ini hanya dipahami sebatas makna tarbiyah dan ta’lim ini telah dirasuki pandangan hidup Barat yang berlandaskan pada nilai-nilai dualisme, sekularisme, humanisme, dan sophisme. Sehingga nilai-nilai adab menjadi semakin kabur dan semakin jauh dari nilai-nilai hikmah ilahiyah. Kekaburan makna adab atau kehancuran adab tersebut mengakibatkan kezaliman (zulm), kebodohan (jahl), dan kegilaan (junun). Artinya karena kurang adab maka seseorang akan meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya (zalim), melakukan cara yang salah untuk mencapai hasil tujuan tertentu (jahl) dan berjuang berdasarkan kepada tujuan dan maksud yang salah (junun).
Mafhum mukhalafahnya, agar manusia Muslim tidak zalim, jahil dan majnun, ia harus di ajari tentang makna adab secara benar dan menyeluruh. Jadi sebenarnya problem ilmu pengetahuan yang dialami ummat Islam tidak ada hubungannya dengan masalah buta huruf atau persoalan kebodohan orang awam. Tapi ummat Islam telah salah dalam memahami ilmu pengetahuan. Ilmu mereka bertumpang tindih dengan, atau dikacaukan oleh pandangan hidup asing, khususnya Barat. Akibatnya, makna ilmu itu sendiri telah bergeser jauh dari makna hakikinya dalam Islam.
Ilmu pengetahuan yang terkandung dalam makna adab tidak menghindarkan seorang Muslim dari bersikap zalim, jahil dan majnun. Terjadinya kerancuan berfikir, korupsi ilmu pengetahuan, pelacuran ilmiah dsb adalah akibat-akibat yang dihasilkan oleh kegagalan ilmu pengetahuan menanamkan adab. Kerusakan ini akan menghambat masyarakat dalam melahirkan pemimpin yang berkualitas di segala bidang dan lapisan, atau sebaliknya memaksa masyarakat melahirkan pemimpin “gadungan” yang lebih cenderung menghancurkan masyarakat daripada membangunnya. Semua itu berasal dari kualitas lembaga pendidikan yang telah kehilangan konsep adab.
Membangun individu melalui universitas
Untuk memperbaiki keadaan ini, maka umat Islam harus mengarahkan target pendidikan kepada pembangunan individu yang memahami tentang kedudukannya baik di depan Tuhan, di hadapan masyarakat dan di dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain pembangunan masyarakat harus dilandaskan pada konsep pengembangan individu yang beradab. Menurut al-Attas pembentukan individu yang beradab tersebut, secara strategis, dapat dimulai dari pendidikan universitas. Namun pendidikan universitas tersebut harus terlebih dahulu diletakkan dan berlandaskan pada interpretasi yang benar terhadap Hikmah Ilahiyah sehingga dapat melahirkan sarjana, ulama dan pemimpin Muslim yang mempunyai pandangan hidup Islam.
Perlu dicatat bahwa penekanan pada pendidikan tinggi merupakan salah satu tradisi dalam Islam dan menjadi perhatian utama para pemikir Muslim sejak dulu.[34] Bahkan, target utama dan misi Nabi adalah untuk mendidik individu yang dewasa dan bertanggung jawab. Penekanan terhadap pendidikan dasar dan menengah sering dikaitkan dengan adanya pengaruh Westernisasi dan modernitas. Selain itu universitas juga merupakan tahap akhir dari penyiapan pemimpin-pemimpin masyarakat. Di semua negara universitas adalah tempat dimana individu-individu yang menonjol menjalani pendidikan dan latihan, guna mengatasi kemiskinan sumber daya alam dan manusia. Sebenarnya, pendidikan tingkat dasar dan menengah hanyalah persiapan menuju universitas. Betapapun baiknya reformasi pendidikan dasar dan menengah lanjutan, jika sistem pendidikan tinggi, terutamanya universitas, tidak direformasi sesuai dengan kerangka epistimologi dan pandangan hidup Islam, ia akan mengalami kegagalan. Dengan menekankan pendidikan tinggi maka kekurangan-kekurangan yang ada di pendidikan tingkat rendah dapat diperbaiki.
Agar universitas benar-benar Islami dan merupakan medium pengembangan individu, maka sebuah universitas harus harus merupakan refleksi dari insan kamil ataupun universal ( al-insan alkulli atau insan al kamil ) dan mengarah kepada pembentukan insan kamil. Contoh insan kamil dan universal itu yang sangat riel adalah figur Nabi Muhammad saw sendiri. Universitas dalam Islam harus merefleksikan figur Nabi Muhammad dalam hal ilmu pengetahuan dan amal sholeh, dan fungsinya adalah untuk membentuk laki-laki dan wanita yang beradab dengan menirunya semirip mungkin dalam hal kualitas sesuai dengan kemampuan dan potensi masing-masing”.[35] Berbeda dari Islam, universitas di Barat mencerminkan keangkuhan manusia. Meskipun mereka juga mempunyai konsep universal man, namun karena pengaruh paham humanisme sofistik yang kuat maka manusia diletakkan diatas segala-galanya. Ungkapan Protagoras yang sering mereka kutip adalah bahwa: “manusia adalah ukuran dari segala sesuatu, segala sesuatu yang ada adalah ada, dan segala sesuatu yang tidak ada adalah tidak ada”.[36] Namun berbeda dengan Islam yang memiliki ciri permanency, ukuran-ukuran Barat mengenai suatu yang ideal selalu berubah, dan berevolusi.[37]
Sejarah telah membuktikan bahwa keagungan suatu masyarakat adalah tercermin daripada kualitas perguruan tinggi masyarakat tersebut. Sayangnya, umat Islam hari ini lebih banyak mendirikan universitas yang hanya meniru pola dan model universitas masyarakat Barat. Padahal universitas Islam sepatutnya berbeda dari universitas Barat baik dalam bentuk, konsep, struktur dan epistimologinya. Universitas (al-Jami’ah, al-kulliyah)) harus dapat membentuk manusia universal yaitu manusia sempurna. Oleh sebab itu seorang ulama atau sarjana bukanlah seorang spesialis dalam salah satu bidang keilmuan, tetapi seorang yang universal dalam cara pandangnya terhadap kehidupan dan mempunyai otoritas dalam beberapa bidang keilmuan yang saling terkait.
Penyataan al-Attas dalam hal ini sangat jelas.
“Sebuah universitas Islam mempunyai struktur yang berbeda dengan universitas Barat, mempunyai konsep ilmu yang berbeda dengan apa yang dianggap sebagai ilmu oleh para pemikir Barat, mempunyai tujuan dan aspirasi yang berbeda dengan konsepsi Barat. Tujuan dari pendidikan tinggi dalam Islam adalah untuk membentuk ‘manusia sempurna’ ataupun ‘manusia universal’… seorang ulama Muslim bukanlah seorang spesialis dalam salah satu bidang keilmuan tetapi ia adalah seorang yang universal dalam cara pandangnya dan mempunyai otoritas dalam beberapa bidang keilmuan yang saling berkaitan.[38]
Karena universitas Islam modern yang berdiri di negara muslim hari ini lebih merupakan fotokopi universitas Barat, maka orientasi yang menggiring para mahasiswa kepada nilai-nilai kehidupan sekuler lebih dominan ketimbang usaha-usaha kearah penanaman pandangan hidup Islam. Pengaruh Barat juga terlihat dalam situasi kebebasan akademik di universitas-universitas itu. Kebebasan masih difahami sebagai kebebasan yang seluas-luasnya sebagaimana yang banyak ditemui dalam cara berfikir Muslim modernis, yang dalam bidang keagamaan bisa diartikan sebagai penentangan terhadap otoritas ulama dan taqlid. Padahal kekebasan akademis bukanlah berarti bebas sebebasnya tanpa ikatan-ikatan keilmuan. Kebebasan akademik adalah kebebasan dalam arti “ikhtiyar“, yakni kebebasan memilih yang lebih baik (khayr) berdasarkan kepada ilmu pengetahuan. Taqlid bukan berarti mengikuti sesuatu dengan membabi buta, tetapi mengikuti seseorang yang mempunyai otoritas ilmu pengetahuan.
Pengertian ini sejatinya juga terjadi di dunia akademis dimana seorang ilmuwan yang lebih muda mengikuti atau memakai pendapat atau teori ilmuwan senior yang lebih pakar. Oleh sebab itu ijtihad bukanlah berpendapat dengan sesuka hati atau dengan sebatas pengetahuan pribadi, tapi berpendapat berdasarkan pada pengetahuan ulama terdahulu yang memiliki otoritas dalan bidang masing-masing. Ijtihad tidak berarti mengkesampingkan otoritas ulama terdahulu sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok modernis yang cenderung mengikuti cara berpikir Barat, khususnya gaya-gaya Protestan dalam melawan otoritas gereja.
Klasifikasi Ilmu dan Praktek Pendidikan Islam
Dalam situasi dimana umat Islam dituntut untuk mencari ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum (sekuler), maka klassifikasi ilmu pengetahuan al-Ghazzali menjadi fardhu ayn dan fardhu kifayah masih sangat relevan untuk ditrapkan. Ilmu fardhu ain adalah ilmu pengetahuan yang menekankan kepada dimensi ketuhanan, intensifikasi hubungan manusia-Tuhan Ilmu Fardhu Kifayah menekankan pada hubungan manusia-manusia, dan nilai-nilai moralitas lainnya yang membentuk cara pandang terhadap kehidupan dan alam semesta. Pembagian ilmu fadu ayn dan fardu kifayah ini tidak perlu difahami secara dikhotomis, karena ia hanyalah pembagian hirarki ilmu pengetahuan berdasarkan kepada tingkat kebenarannya. Ia harus dilihat dalam perspektif kesatuan integral atau tawhidi, dimana yang pertama merupakan asas dan rujukan bagi yang kedua.
Dalam kurikulum pendidikan, semestinya pengajaran ilmu-ilmu fardhu ayn yang berupa ilmu yang berhubungan dengan keimanan dan kewajiban-kewajiban individu tidak berhenti pada jenjang pendidikan rendah atau menengah, ia harus dilanjutkan kepada tingkat universitas dalam bentuk konsep-konsep. Materi wajib yang berupa Aqidah, Tawhid atau Ushuluddin pada jenjang pendidikan rendah dan menengah mestinya dikembangkan menjadi materi wajib pada jenjang pendidikan tinggi yang berupa ilmu Kalam atau filsafat dimana konsep-konsep tentang Tuhan, manusia, alam, akhlaq dan tentang Din dikaji secara mendalam. Itu semua hendaknya diajarkan sehingga dapat menjadi fondasi bagi pengkajian disiplin ilmu lain atau ilmu fardu kifayah. Disini sumber pengetahuan inderawi, aqli dan intuisi disatukan dalam suatu cara berfikir yang integral. Integral artinya tidak berfikir dualistis: obyektif dan subyektif, idealistis dan realistis. Dengan cara itu dikotomi ilmu pengetahuan, agama dan umum, yang telah begitu merasuk ke dalam kurikulum pendidikan Islam akibat dari sekularisasi pemikiran dapat secara perlahan-lahan dihilangkan.
Menurut Prof. al-Attas setiap Muslim wajib menguasai ilmu fardu ayn sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pengetahuan masing-masing. Ilmu fardu ayn bagi seorang mahasiswa Usuluddin, misalnya tidak sama dengan Ilmu fardu ayn bagi siswa Madrasah ‘Aliyah atau mahasiswa fakultas Sosiologi. Jika setiap cendekiawan menguasai ilmu fardu ayn sesuai dengan bidangnya, maka pada dataran epistemologis ilmu Fardu ayn ini pada akhirnya akan menyatukan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang termasuk kedalam ilmu fardu kifayah, seperti ilmu kemanusiaan, ilmu alam, sejarah, peradaban, bahasa dan lain sebagainya.
Konsep hirarki ilmu pengetahuan ilmu fardu ayn dan fardu kifayah yang mulanya dicanangkan al-Ghazzali itu belum banyak dikenal dikalangan lembaga pendidikan Islam, jikapun dikenal ia masih banyak disalah fahami atau masih belum dikonseptualisasikan serta dipraktekkan secara akademis. Pembagian ini perlu ditekankan pada jenjang perguruan tinggi. Sebab masalahnya berkaitan dengan konsep epistemologi. Untuk mengidentifikasi problem ilmu pengetahuan dalam prakteknya pada lembaga pendidikan, ada baiknya dibahas problem ilmu ini pada sistim pendidikan Islam di Indonesia. Di Indonesia terdapat sekurangnya 3 institusi pendidikan Islam, yaitu pesantren, madrasah dan perguruan tinggi Islam.
a) Sistim pendidikan pesantren
Pesantren di Indonesia terdiri dari dua sistim yaitu tradisional dan modern. Keduanya mempunyai missi tafaqquh fiddin, artinya lembaga pendidikan yang bertujuan khusus mempelajari agama. Pada pesantren tradisional missi ini dijabarkan secara kurikuler dalam bentuk kajian kitab kuning yang terbatas pada Fiqih, Aqidah, Tata Bahasa Arab, Hadith, Tasawwuf dan Tarekat, Akhlak, dan Sirah. Sementara itu bagi pesantren modern missi ini diwujudkan dalam bentuk kurikulum yang diorganisir dengan menyederhanakan kandungan kitab kuning sehingga bersifat madrasi dan melengkapinya dengan mata pelajaran ilmu-ilmu yang biasa disebut “ilmu pengetahuan umum”. Pesantren tradisional yang mengkhususkan diri pada kajian ilmu fardu ayn terpaksan mengorbankan ilmu fadu kifayah dalam pengertian ‘ulum al-naqliyyah. Bahkan kajian ilmu fardu ayn dengan kekayaan kitabnya itu belum dapat memainkan perannya yang berarti terhadap kajian disiplin ilmu fardu kifayah di lembaga pendidikan Islam lainnya atau pendidikan sekuler. Selain itu karena kelemahan metodologis pesantren tradisional takhassus pada satu bidang ilmu tertentu terlalu kaku, sehingga menyulitkan kerja-kerja integrasi ilmu fardu ayn dan fardhu kifayah. Di pesantren ini sangat sedikit sekali, atau bahkan mungkin tidak ada, kajian ulum al-’aqliyyah seperti logika, filsafat, metafisika, kalam, kedokteran dan lain-lain. Ringkasnya, secara umum pembagian hirarki ilmu fardu ayn dan fardu kifayah tidak nampak jelas, bahkan ilmu fardu kifayah yang melibatkan kajian tentang alam dan hakekat manusia hampir tidak mendapat tempat dalam kurikulum pesantren tradisional itu sendiri.
Pesantren modern yang memahami tafaqquh fi al-din dalam bentuk gabungan ilmu fardu ayn dan fardu kifayah memang berhasil memberikan wawasan yang lebih luas dibanding pesantren tradisional, namun sesungguhnya gabungan itu bukan merupakan hasil integrasi ulum al-naqliyyah dan ulum al-’aqilyyah yang didesain secara konseptual. Mata pelajaran Fisika misalnya masih belum dikaitkan dengan mata pelajaran Usuluddin, mata pelajaran Sejarah Dunia tidak mengandung Sejarah Islam atau peranan ummat Islam dalam sejarah dunia dan sebagainya. Jadi kurikulum pesantren modern bukan merupakan hasil dari konsep ilmu yang integral, tapi lebih merupakan kajian serempak ilmu fardu ayn dan fardu kifayah. Jadi, masih terbuka kemungkinan akan adanya pandangan dikotomis para santrinya. Meskipun begitu sebenarnya dengan sistim madrasinya yang mengharuskan pengajaran banyak materi mabadi’ al-ulum (ilmu-ilmu kunci) pesantren modern berpotensi untuk memproduk generalis dan lebih kondusif untuk menanamkan pandangan hidup Islam dibanding pesantren tradisional. Kedua sistim pendidikan pesantren ini sebenarnya sama-sama memiliki potensi untuk diarahkan mengkaji ilmu pengetahuan Islam secara integral. Namun hal itu tergantung kepada kapasitas kyai, ulama dan asatidhahnya.
b) Sistim Pendidikan Madrasah
Sistem pendidikan madrasah yang dikembangkan pemerintah sebenarnya diharapkan mampu menciptakan pelajar-pelajar yang mengetahui dan menguasai ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum sekaligus.[39] Sistem pendidikan madrasah mulanya didesain sebagai konvergensi kurikulum pendidikan pondok dan sekolah umum yang sedikit banyak serupa dengan kurikulum pesantren modern. Namun pengembangan program-program khusus atau jurusan tertentu yang memisahkan ilmu fardu ayn dan ilmu fardu kifayah dengan tanpa konsep yang jelas, peran madrasah dalam mengeliminir dikotomi ilmu dalam pendidikan Islam semakin tidak nampak. Disisi lain kegagalan sistem madrasah juga dapat dilihat dari fakta dimana prestasi kebanyakan murid-murid madrasah dalam bidang “ilmu-ilmu agama” masih tertinggal jauh dari prestasi santri-santri pondok pesantren dan dalam bidang “ilmu-ilmu umum” pula mereka tidak bisa mengimbangi prestasi murid-murid sekolah umum. Selain itu, sejauh ini nampaknya ilmu pengetahuan umum (sekuler) tidak diajarkan dalam perspektif ilmu agama.
c) Perguruan tinggi Islam
Terlepas dari peran kemasyarakat yang dimainkan oleh sistim pesantren, kekurangan yang paling menonjol adalah ketidakmampuan keduanya dalam mengembangkan tingkat tingginya atau perguruan tingginya. Yakni perguruan tinggi yang khas dibangun sebagai kelanjutan tradisi intelektual Islam atau sekurang-kurangnya dibangun berdasarkan pada tradisi keilmuan di pesantren. Padahal dulu hampir semua pesantren memiliki program tingkat tingginya, yang di pesantren tradisional disebut khawas dan di pesantren modern disebut pesantren tinggi, meskipun tidak dilembagakan secara formal. Program itu kini sudah sangat jarang, kalaupun tidak boleh dikatakan tidak ada. Kini di beberapa pesantren program itu telah diganti dengan sekolah tinggi atau institut yang mengikuti kurikulum Departemen Agama yang sebenarnya bukan sepenuhnya merupakan kelanjutan dari kurikulum pesantren. Ada pula pesantren yang mendirikan universitas dengan fakultas yang mengikuti kurikulum Departmen Pendidikan dan Kebudayaan. Isi dan produknya tentu yang tidak jauh beda dengan universitas umum. Gagasan dan usaha untuk menghidupkan program Ma’had ‘Aly sebagai lanjutan pendidikan pesantren ternyata terhalang oleh kemiskinan konsep dan sumber daya manusia.
Jenjang pendidikan lanjutan dalam bentuk institut atau universitas yang melanjutkan kajian ilmu-ilmu keislaman di pesantren sangat diperlukan. Hal ini pertama-tama dimaksudkan agar khazanah ilmu pengetahuan Islam disatu sisi dikaji secara intensif dan disisi lain difahami dalam konteks kekinian.
Secara kurikuler, fakultas-fakultas agama (fardhu ayn) menjadi rujukan atau menjadi asas bagi pengembangan kurikulum fakultas-fakultas umum (fardhu kifayah). Dengan kata lain hal ini merupakan rekonseptualisasi ilmu-ilmu fardu ayn dan sekaligus meripakan aplikasi epistemologis kedalam ilmu-ilmu fardu kifayah. Hal ini dapat dengan mudah dilakukan oleh kedua sistim pendidikan pesantren diatas, karena produk kedua sistim ini mempunyai kelebihan menonjol dalam mengakses khazanah ilmu pengetahuan Islam.
Kesimpulan
Pembahasan diatas menunjukkan bahwa problem kerancuan ilmu pengetahuan dalam pikiran ummat Islam dewasa ini disebabkan oleh masuknya pandangan hidup asing kedalam pikiran ummat Islam. Setiap pandangan hidup mengandung elemen-elemen penting seperti konsep kehidupan, konsep dunia, konsep manusia, konsep etika, konsep ilmu dan lain-lain. Elemen-elemen tersebut sangat berperan dalam pembentukan kerangka konsep keilmuan yang kemudian akan melahirkan kegiatan keilmuan dan juga disiplin ilmu. Selain itu elemen-elemen itu juga mempengaruhi presupposisi yang terdapat dalam suatu disiplin ilmu. Elemen pandangan hidup Barat yang memposisikan manusia sebagai standar menentukan kebenaran, misalnya, sudah tentu akan melahirkan presupposisi dalam berbagai bidang yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam. Demikian pula liberalisme, sekularisme, relativisme dan lain-lain yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam tidak dapat dibendung kecuali dengan meninjau kembali kurikulum pendidikan Islam disemua tingkat, khususnya ditingkat universitas. Kurikulum pendidikan universitas Islam hendaknya diarahkan kepada pengkajian konsep-konsep penting dalam pandangan hidup Islam, agar dapat menandingi konsep-konsep asing atau bahkan melahirkan konsep-konsep Islam yang lebih relevan dengan kehidupan kontemporer.
[1] Lihat Thomas F Wall, Thinking About Philosophical Problem, Wadsworth, Thomson Learning, United States, hal. 126-127
[2] al-Attas, A Commentary on the Hujat al-ØsiddÊq of NËr al-DÊn al-RÉnirÊ: being an exposition of the salient point of distinction between the position of the theologians, the philosophers, the Sufi dan the pseudo-Sufi on the ontological relationship between God and the world and related questions, Ministry of Education and Culture, Kuala Lumpur, 1986, 464-465.
[3] Edwind Hung dan Gutting sepakat bahwa paradigma sama dengan worldview. Hung menyatakan bahwa “…..each paradigm determines the way science should be practiced. It is a weltanschauung”; Lihat Edwin Hung, The Nature of Science: Problem and Perspectives (Belmont, California, Wardsworth, 1997) hal. 368. Dengan nada yang sama Garry Gutting juga menyatakan bahwa “to accept a paradigm is to accept a comprehensive scientific, metaphysical and methodological worldview. Lihat Gary Gutting, “Introduction” dalam Paradigm and Revolutiona: Appraisal and Application of Thomas Kuhn’s Philosophy of Science, ed. Gary Gutting (Notre Dame, Ind.: University of Notre Dame Press, 1980, hal. V,1.
[4] Kajian Ninian Smart membuktikan bahwa perkataan bahasa Inggris, worldview tidak mencakup makna pandangan hidup yang menggambarkan visi yang mencakup realitas keagamaan dan ideologi. Ninian Smart, Worldview, Crosscultural Explorations of Human Belief, Charles Sribner’s sons, New York, n.d. 1-2
[5] Smart, Ibid
[6] Aslinya berbunyi An integrated system of basic beliefs about the nature of yourself, reality, and the meaning of existence, Lihat Thomas F Wall, Thinking Critically About Philosophical Problem, A Modern Introduction, Wadsworth, Thomson Learning, Australia, 2001, 532.
[7] Aslinya berbunyi The foundation of all human conduct, including scientific and technological activities. Every human activity is ultimately traceable to its worldview, and as such it is reducible to that worldview. Lihat Alparslan Acikgence, “The Framework for A history of Islamic Philosophy”, Al-Shajarah, Journal of The International Institute of Islamic Thought and Civlization, (ISTAC, 1996, vol.1. Nos. 1&2, 6.
[8] Kuhn menyatakan:”penelitian ilmiyah diarahkan kepada artikulasi fenomena-fenomena dan teori-teori yang paradigmanya telah tersedia” Lihat Thomas S Kuhn, The Structure of Scientific Revolution, International Encyclopedia of Unified Science, vol.2, no 2 (Chicago: Univerity of Chicago Press, 1970. 24.
[9] Lihat Edwin Hung, The Nature of Science: Problem and Perspectives (Belmont, California, Wardsworth, 1997) hal. 340, 355, 368, 370.
[10] Al-MawdËdÊ, The Process of Islamic Revolution, (Lahore, 1967) 14, 41.
[11] Shaykh ÓÏif al-Zayn, al-IslÉm wa Idulujiyyat al-InsÉn, DÉr al- KitÉb al-LubnÉnÊ, Beirut, 1989, hal. 13.
[12] M.Sayyid Qutb, MuqawwamÉt al-TaÎawwur al-IslamÊ, DÉr al-ShurËq, tt. Hal. 41
[13] S.M.N, al-Attas dalam Prolegomena to The Metaphysics of Islam An Exposition of the Fundamental Element of the Worldview of Islam, Kuala Lumpur, ISTAC, 1995, 2
[14] Thomas F Wall, Thinking.. , 16
[15] Ninian Smart, Worldview, Crosscultural Explorations of Human Belief, 8-9
[16]S.M.N, al-Attas, “The Worldview of Islam, An Outline, Opening Adress”, dalam Sharifah Shifa al-Attas ed. Islam and the Challenge of Modernity, Proceeding of the inaugural Symposium on Islam and the Challenge of Modernity: Historical and Contemporary Context, Kuala Lumpur Agustus, 1-5, 1994, ISTAC, Kuala Lumpur, 1996, hal. 29
[17] Lihat S.M.N, al-Attas Prolegomena, ix.
[18] Alparslan Acikgence, Islamic Science, Towards Definition, Kuala Lumpur, ISTAC 1996, 29.
[19] Penjelasan al-Attas tentang konsep worldview Islam dan penjabaran elemen-elemen asasnya terdapat dalam karyanya Prolegomena to The Metaphysics of Islam. Pendahuluan buku ini menjelaskan ciri-ciri khusus pandangan hidup Islam yang berbeda dari pandangan hidup Barat. Teori ini kemudian mendapat penjelasan lebih detail dalam kaitannya dengan timbulnya sains dan tradisi intelelktual Islam, dari Professor Alparslan. Professor Alparslan yang telah lama mengkaji teori worldview dalam kaitannya dengan sains dan sistim pemikiran, kemudian menulis risalah berjudul Islamic Science Towards definition, .untuk proses perjalanan pengkajiannya itu lihat “acknowledgement” hal. v. al-Attas, SMN, Prolegomena, lihat “Introduction” 1-37. Cf. Al-Attas, S.M.N., “Opening Address, The Worldview of Islam, an Outline”, hal. 28-29.
[20] Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang diperoleh melalui asumsi atau cara berfikir tertentu terhadap fakta-fakta, tanpa observasi atau pengalaman khusus. A posteriori adalah pengetahuan yang tidak dapat diperoleh secara a priori.
[21] Thomas F Wall, Thinking Critically About Philosophical Problems, 126
[22] Alparslan, “The Framework” 6. Cf. Alparslan, Islamic Science, 10.
[23] Alparslan, “The Framework”, 6-7.
[24] Alparslan, Islamic Science, 20-26. Dalam pandang Prof. Al-Attas elemen-elemen asas pandangan hidup Islam terdiri dari konsep Tuhan, sifat ciptaanNya, konsep manusia dan jiwa manusia, konsep ilmu, kebebasan dan lain-lain. Al-Attas, S.M.N., “Opening Address”, 28-29.
[25] Khalifah melaporkan catatan orang lain menyatakan bahwa Suffah didirikan antara 10, 17, atau 19 bulan sesudah Hijrah atau 2 tahun setelah Hijrah. Dalam SaÍih BukhÉri disebutkan pula bahwa ia didirikan 16 atau 17 bulan setelah Hijrah. Lihat Khalifah ibn Khayyat (d.240 A.H) al-Tarikh, dengan komentar oleh Akram Diya’ al-’Umari (Najaf: al-Adab Press 1967, vol.1 / 321. Bandingkan, al-Bukhari, Muhammad ibn Isma’il (d.256 A.H) al-Sahih, 9 Bagian, dalam 3 jilid (Mesir: Muhammad Ali al-Subayh, n.d. lihat Kitab al-Salah Bab al-Tawajjuh Nahw al-Qiblah, 1/104.; lihat juga al-Hujwiri, Kashf al-Mahjub, 81.
[26] Mengenai jumlah peserta dalam komunitas ilmuan dan materi yang dikaji, Lihat AbË Nuaym Abu Nu’aym, Ahmad ibn ‘Abd Allah al-Asbahani (d.430 A.H.) Hilyat al-Auliya’, 10 jilid, Mesir: al-Sa’adah Press, 1357, 1/339, 341.
[27] Tujuan utama AsÍÉb al-Øuffah adalah belajar dan mengamalkan Islam, seperti shalat, membaca al-Qur’an, memahami ayat-ayat bersama-sama, berzikir serta belajar menulis. Alumni, sebut saja begitu, dari sekolah masyarakat (learning society) ini juga menunjukkan kemampuan mereka dalam menghapal hadith-hadith Nabi. Lihat Abu Daud al-Sijistani, Sulayman ibn al-Asha’ath, (d.275 A.H) al-Sunan, 2 vols. (Egypt, Mustafa al-Babi al-Halabi, 1371) 2/237; and Ibn Majah, Muhammad Ibn Yazid (d.273), al-Sunan, dengan komentar dari Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi, (Cairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyyah, 1953, 2/70.
[28] AbË Nu’aym mencatat bahwa Sa’Êd ibn ‘Ubadah sendiri biasa memberikan akomodasi kepada 80 orang di rumahnya untuk tujuan belajar mengajar. Ibid, 1/341.
[29] seperti misalnya Qadi Surayh (d.80/ 699), Muhammad ibn al-Hanafiyyah (d.81/700), Ma’bad al-Juhani (d.84/703), Umar ibn ‘Abd al-’Aziz ( d.102/720) Wahb ibn Munabbih (d.110,114/719,723), Hasan al-Basri (d.110/728), Ghaylan al-Dimashqi (d.c.123/740), Ja’far al-Sadiq (d.148/765), Abu Hanifah (d.150/767), Malik ibn Anas (179/796), Abu Yusuf (d.182/799), al-Shafi’i (204/819) dan lain-lain.
[30]Alparslan, Islamic Science, 81
[31] Istilah-istilah yang di derivasi dari kosa-kata al-Qur’an dan hadith Nabi termasuk diantaranya: ‘ilm, fiqh, usul, ijtihad, ijma’, qiyas, ‘aql, idrak, wahm, tadabbur, tafakkur, hikmah, yaqin, wahy, tafsir, ta’wil, ‘alam, kalam, nutq, zann, haqq, batil, haqiqah, ‘adam, wujud, sabab, khalq, khulq, dahr, sarmad, zaman, azal, abad, fitrah, kasb, khayr, ikhtiyar, sharr, halal, haram, wajib, mumkin, iradah dan lain sebagainya.
[32] Dalam al-Qur’an terdapat 91 ayat yang mengandung kata-kata ‘ilm, tidak termasuk kata-kata derivatifnya, dari 91 ayat itu 67 daripadanya diwahyukan di Makkah dan sisanya, 24 ayat, di Madinah.
[33] Franz Rosenthal, Knowledge Triumphant, The Concept of Knowledge in Medieval Islam, Leiden E.J.Brill, 1970, hal.2.
[34] Kajian Tibawi, misalnya menunjukkan bahwa ternyata Ikhwanusafa tidak tertarik untuk membahas bayi dan anak laki-laki sebelum berusia 15 tahun dalam praktek sistem pendidikan Islam. Abdul Latif Tibawi, Arabic and Islamic Themes: Historical, Educational and Literary Studies (London: Luzac & Co., 1974), hal. 181.
[35] Al-Attas, The Concept of Education in Islam, hal. 39–40; the Ikhwan as-Safa (muncul pada 373 Hijrah) dalam risalahnya (Rasail) menekankan bahwa setelah proses pendidikan bentuk kehalusan budi (tahzib), pensucian diri (ta’thir), peningkatan sampai akhir (tatmim), dan penyempurnaan (takmil), maka tingkat yang terakhir harus pada tingkat manusia sempurna (Insan Kamil). Lihat juga Tibawi, Arabic and Islamic Themes, hal. 185.
[36] Lihat sebagai contoh, James L. Jarrett, Educational Philosophy of the Sophists (New York: Teachers College-Columbia University Press, 1965); juga lihat Corliss Lamont, The Philosophy of Humanism, cetakan ulang edisi 1949 (New York: The Wisdom Library, 1957).
[37] Lihat Werner Jaeger, Paideia: The Ideals of Greek Culture, 3 vols. duiterjemahkan oleh Gilbert Highet. Edisi 2 (New York/Oxford: Oxford University Press, 1945), 1: xxii–xxiv; juga lihat J. H. Randall Jr., The Making of the Modern Mind, 50th Anniversary Edition. Foreword by Jacques Barzun (New York: Columbia University Press, 1976), hal. 135–136; juga lihat Paul Nash, Andreas M. Kazamias dan Henry J. Perkinson, The Educated Man: Studies in the History of Educational Thought (Malabar, Florida: Robert E. Krieger, 1970), Pendahuluan..
[38] Surat al-Attas kepada kepada Sekretariat Konferensi Islam tanggal, 15 May 1973, hal. 1–2;
[39] Dalam konteks Islam, sebenarnya tidak ada istilah ‘ilmu-ilmu umum,’ sebab Islam menjadikan semua aspek, keperluan dan aktifitas kehidupan sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Dipakainya istilah ilmu-ilmu umum dalam tulisan ini adalah semata-mata merujuk kepada penggunaannya yang sudah begitu populer di Indonesia.
Mengajar, Menulis dan Membaca adalah aktivitasku sehari-hari, aku merindukan Islam yang damai, kaffah, dan rahmatan lil aalamin, yaitu Islam berdiri diatas wahyu, peradaban ilmu.
assalammualaikum,saudara….
bolehkah sy bertanya?
sy memerlukan informasi ttg pandangan barat terhadap ilmu pengetahuan…
itupun kalau saudara tidak keberatan….
Waalaykum slm wr.wb.
Insya Allah nanti akan sy upload tulisan ttng pandangan Barat thd ilmu pengetahuan. Atau saudari bisa baca buku Islam and Sekularisme, dan Filsafat Sains yang ditulis oleh Syed Naquib al-Attas. Di dua buku itu al-Attas membentangkan konsep ilmu Barat dan kerancuannya.
Assalammualaikum,saudara…
sy sedang mencari informasi ttg pandangan barat tentang ilmu pengetahuan,kalau saudara tidak keberatan…..sy ingin meminta tlg dr saudara utk memberi sedikit maklumat kp sy…..
terima kasih,
Insya Allah maklumat ttng pandangan Barat thd Ilmu akan sy upload di blog ini. antum punya FB? jk punya silahkan gabung di group sy For the Rise of Islam.
ya trm ksih artikel ya cukup bermnfaat bwt saya
Hubungan agama dengan ilmu
Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa didefinisikan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mendeskripsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia artinya dalam persoalan ilmu manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
Dan bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme (barat) dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi barat sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit,analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik.ini bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ilmu tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti secara empirik,sebab ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat empirik tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk memahami realitas yang bersifat abstrak.
Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu,
Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatasnamakan sains padahal ia cuma teori belaka yang bersifat spekulatif kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan agama.
Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara membabi buta,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta vs deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tak ada ayat kitab suci dari Taurat sampai Al qur’an yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya/saat itu pendeta melihatnya dari prinsip ‘filosofis’).
‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung),dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
Kemudian bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang keliru,sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat dari dasar metodologinya,bila metodologi sains adalah metode empirisme dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’ sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara empirik,sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah alat atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem),dan metodologi ilmu versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab manusia diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.
Jadi kesimpulannya bila dilihat dari kacamata Ilahi maka apa yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu dan bukan ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh,tapi kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya) definisi pengertian ‘ilmu’ adalah sebagaimana konsep yang telah mereka buat dengan metodologi yang telah mereka tetapkan sebagaimana telah tertera dalam buku buku filsafat ilmu.kaum materialist tidak mau menerima bila konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi barat (dengan metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti ‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata dua’/bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit secara berimbang).
Hubungan agama dengan ilmu
Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa didefinisikan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mendeskripsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia artinya dalam persoalan ilmu manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
Dan bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme (barat) dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi barat sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit,analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik.ini bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ilmu tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti secara empirik,sebab ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat empirik tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk memahami realitas yang bersifat abstrak.
Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu,
Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatasnamakan sains padahal ia cuma teori belaka yang bersifat spekulatif kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan agama.
Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara membabi buta,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta vs deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tak ada ayat kitab suci dari Taurat sampai Al qur’an yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya/saat itu pendeta melihatnya dari prinsip ‘filosofis’).
‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung),dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
Kemudian bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang keliru,sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat dari dasar metodologinya,bila metodologi sains adalah metode empirisme dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’ sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara empirik,sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah alat atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem),dan metodologi ilmu versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab manusia diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.
Jadi kesimpulannya bila dilihat dari kacamata Ilahi maka apa yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu dan bukan ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh,tapi kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya) definisi pengertian ‘ilmu’ adalah sebagaimana konsep yang telah mereka buat dengan metodologi yang telah mereka tetapkan sebagaimana telah tertera dalam buku buku filsafat ilmu.kaum materialist tidak mau menerima bila konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi barat (dengan metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti ‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata dua’/bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit secara berimbang).
Hubungan agama dengan ilmu
Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa didefinisikan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mendeskripsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia artinya dalam persoalan ilmu manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
Dan bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme (barat) dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi barat sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit,analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik.ini bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ilmu tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti secara empirik,sebab ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat empirik tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk memahami realitas yang bersifat abstrak.
Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu,
Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatasnamakan sains padahal ia cuma teori belaka yang bersifat spekulatif kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan agama.
Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara membabi buta,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta vs deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tak ada ayat kitab suci dari Taurat sampai Al qur’an yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya/saat itu pendeta melihatnya dari prinsip ‘filosofis’).
‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung),dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
Kemudian bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang keliru,sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat dari dasar metodologinya,bila metodologi sains adalah metode empirisme dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’ sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara empirik,sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah alat atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem),dan metodologi ilmu versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab manusia diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.
Jadi kesimpulannya bila dilihat dari kacamata Ilahi maka apa yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu dan bukan ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh,tapi kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya) definisi pengertian ‘ilmu’ adalah sebagaimana konsep yang telah mereka buat dengan metodologi yang telah mereka tetapkan sebagaimana telah tertera dalam buku buku filsafat ilmu.kaum materialist tidak mau menerima bila konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi barat (dengan metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti ‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata dua’/bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit secara berimbang).
Hubungan agama dengan ilmu
Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa didefinisikan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mendeskripsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia artinya dalam persoalan ilmu manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
Dan bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme (barat) dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi barat sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit,analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik.ini bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ilmu tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti secara empirik,sebab ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat empirik tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk memahami realitas yang bersifat abstrak.
Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu,
Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatasnamakan sains padahal ia cuma teori belaka yang bersifat spekulatif kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan agama.
Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara membabi buta,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta vs deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tak ada ayat kitab suci dari Taurat sampai Al qur’an yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya/saat itu pendeta melihatnya dari prinsip ‘filosofis’).
‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung),dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
Kemudian bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang keliru,sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat dari dasar metodologinya,bila metodologi sains adalah metode empirisme dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’ sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara empirik,sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah alat atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem),dan metodologi ilmu versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab manusia diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.
Jadi kesimpulannya bila dilihat dari kacamata Ilahi maka apa yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu dan bukan ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh,tapi kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya) definisi pengertian ‘ilmu’ adalah sebagaimana konsep yang telah mereka buat dengan metodologi yang telah mereka tetapkan sebagaimana telah tertera dalam buku buku filsafat ilmu.kaum materialist tidak mau menerima bila konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi barat (dengan metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti ‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata dua’/bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit secara berimbang).