Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Peradaban Barat’ Category

Oleh: Kholili Hasib

 “Spirituality yes, organized religion no!”. Manusia bisa menjadi orang baik dan meraih spiritualisme tanpa harus beragama. Kalimat tersebut meluncur dari futurolog Barat, John Naisbitt dan Patricia Aburdene untuk menggambarkan masa depan kehidupan agama orang Barat secara khusus dan manusia sedunia secara umum.

(more…)

Read Full Post »

Oleh: Adnin Armas

Salah satu dampak dari modernisasi dan sekularisasi adalah rancunya konsep ilmu.  Sebabnya, peradaban Barat telah menjadikan ilmu sebagai problematis. Selain telah salah-memahami makna ilmu, peradaban tersebut telah menghilangkan maksud dan tujuan ilmu. Tidak dinafikan, peradaban Barat telah menghasilkan ilmu yang bermanfaat. Namun, tidak dapat dinafikan juga bahwa peradaban tersebut telah menghasilkan ilmu yang telah merusak khususnya spiritual kehidupan manusia. Makalah ringkas di bawah ini ingin menunjukkan bahwa revolusi epistemologis diperlukan untuk menjawab krisis epistemologis yang sedang melanda peradaban dunia modern.

(more…)

Read Full Post »

Oleh:.Hamid Fahmy Zarkasyi M.Phil

Pendahuluan

Sebelum membahas framework orientalis dalam bidang filsafat, diperlukan penjelasan tentang status filsafat sebagai salah satu cabang ilmu dalam khazanah pengetahuan Islam. Jika hal ini tidak dilakukan, dan status filsafat dalam Islam masih problematis, maka kajian kritis terhadap framwework orientalis menjadi tidak perlu. Sebab, jika Muslim menafikan filsafat sebagai salah satu cabang ilmu dalam Islam, maka implikasinya tidak beda dari framework orientalis, seperti yang akan kita bahas nanti, yaitu sama-sama menafikan wujud pemikiran sistimatis, rasional, konseptual dan filosofis dalam Islam.

(more…)

Read Full Post »

Oleh: Adnin Armas

Hegemoni peradaban Barat yang didominasi oleh pandangan hidup saintifik (scientific worldview) telah membawa dampak negatif terhadap peradaban lain­nya, khususnya dalam bidang epistemologi. Barangkali, “westernisasi ilmu pengetahuan” adalah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi ini. Jika hal ini difahami dengan bâik, maka terma Islamisasi Ilmu Pengetahuan kon­temporer” bukan hanya istilah yang wajar dan mudah diterima, tapi lebih merupakan proyek yang membawa keharusan konseptual. Oleh sebab itu, substansi Islamisasi tidak dapat sepenuhnya dimengerti jika tidak dikaitkan dengan persoalan epistemol­ogis yang melanda dunia Islam, dan tantangan yang menjadi sumbernya. Kajian ini akan memaparkan secara singkat Westernisasi ilmu pengetahuan yang menjadi tantan­gan bagi bangunan ilmu pengetahuan Islam untuk dapat memaharni makna dan relevan­si islamisasi.

I. Westernisasi Ilmu Pengetahuan

Rene Descartes

Sejarawan Barat menganugerahkan gelar “Bapak Filsafat Modern” kepada René Descartes (rn. 1650), yang memformulasi sebuah prinsip, aku berfikir maka aku ada (cogito ergo sum). Dengan prinsip ini, Descartes telah menjadikan rasio satu~satunya kriteria untuk mengukur kebenaran. Penekanan terhadap rasio dan panca indera sebagai sum­ber ilmu juga dilakukan oleh para filosof lain seperti: Thomas Hobbes (m. 1679), Benedict Spinoza (m. 1677), John Locke (m. 1704), George Berkeley (m. 1753), Francois-Marie Voltaire (m. 1778), Jean-Jacques Rousseau (m. 1778), David Hume (m. 1776), Immanuel Kant (m. 1804), Georg Friedrick Hegel (m. 1831), Arthur Schopenhauer (rn. 1860), Soren Kierkegaard (m. 1855), Edmund Husserl (rn. 1938), Henri Bergson (m. 1941), Alfred North Whitehead (m. 1947), Bertrand Russell (rn1970), Martin Heidegger (m. 1976), Emil­io Betti (m. 1968), Hans-Georg Gadam­er, Jurgen Habermas, dan lain-lain.

(more…)

Read Full Post »

Oleh, Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi

Diupayakan di dunia ini hanya satu agama, yaitu agama Yahudi. Oleh karena itu segala keyakinan lainnya harus dikikis habis. Kalau dilihat di masa kini, banyak orang yang menyimpang dari agama. Pada hakekatnya kondisi seperti itulah yang menguntungkan yahudi (Protocol Zion Ke 14)

Tidak jarang kita mengamati banyak sekali pelatihan-petihan motivasi spiritual hadir di Negara kita. Selain melejitkan potensi keimnanan, ada pula yang mengaku bisa mendekatkan spiritualitas seorang hamba kepadaNya. Caranya simpel, anda hanya disuruh kosongkan pikiran, dengarkan hati nurani, ingat dosa-dosa anda dan rasakan ada titik Tuhan hadir disitu. Pelatihan ini banyak berbandrol jutaan rupiah. Ia diisi orang-orang berdasi. Panitianya rupa-rupa warnanya. Ada yang berjilbab ketat, kerudung selempangan, sampai yang tidak menutup aurat. Yang lelaki, apalagi: necis, wangi, gagah dengan jas menyelimuti punggungnya.

 

(more…)

Read Full Post »

Dalam wacana pemikiran Islam kontemporer, nama-nama seperti Umar bin Khattab, Mu‘tazilah, Najmuddin al-Tufi, Syatibi sering dicatut oleh sebagian pemikir liberal untuk diproyeksikan sebagai pioneer liberalisme dan sekularisme di dunia Islam. Proses ideologisasi turats seperti ini jelas hanya bertujuan pragmatis: mereka sekedar ingin memberitahu publik bahwa ide liberal-sekuler yang mereka kembangkan itu tidak asing dalam khazanah intelektual Islam; bahwa ide sekularisme dan liberalisme seolah-olah lahir dan berkembang dari rahim peradaban Islam.

Perlakuan ideologis seperti inilah yang kerap diterima oleh Ibn Rusyd dalam diskursus Islam saat ini. Tokoh asal Cardova ini bahkan “diposisikan”  sebagai pemikir Muslim pertama yang menanamkan serta menyebarkan benih rasionalisme, liberalisme, dan sekularisme dalam ranah pemikiran Islam. (more…)

Read Full Post »

Kartika Pemilia Lestari*

Sekarang ini kita memasuki era posmodernisme. Kita hidup pada zaman yang mengalami perubahan dramatis. Struktur yang telah bertahan dari generasi ke generasi sedang mengalami keruntuhan, atau diruntuhkan.

Sangat sulit mengetahui definisi istilah ‘posmodernisme’, karena jika definisi diartikan sebagai sesuatu yang bisa disepakati, tunggal, dan bulat; maka kesepakatan, ketunggalan, dan kebulatan itulah yang tidak diinginkan oleh posmodernisme. Yang bisa dilakukan hanyalah mengira-ngira apa yang menjadi ciri-ciri posmodernisme. Hanya dengan membuat pengelompokan, barulah kita dapat menangkap arti atau definisi posmodernisme.

Posmodernisme memiliki keragaman gerakan, sebagai akibat akibat-akibat negatif yang ditimbulkannya. Kategori pertama, adalah gerakan posmodernisnme yang digagas oleh Nietzsche, Derrida, Foucault, Vattimo, Lyotard, dan lain-lain. Gerakan ini menggagas pemikiran-pemikiran yang banyak berurusan dengan persoalan linguistik. Kata kunci yang populer untuk kelompok ini adalah “dekonstruksi”. (more…)

Read Full Post »

Older Posts »