Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Peradaban Islam’ Category

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasy,M.Phil

Metodologi pengkajian Islam adalah pendekatan (approach) atau kerangka kerja (framework) dalam memahami atau mengkaji Islam. Metolodogi pengkajian bukan hanya metode pengajaran (thariqah al-tadris atau thariqah al-ta’lim) atau cara penyampaian suatu materi atau subjek agar dapat dipahami murid atau mahasiswa. Metodologi lebih tepat dipahami sebagai manhaj al-fikri atau manhaj al-dirasah yang tercermin di dalam struktur silabus dan kandungan masing-masing mata kuliah.

(more…)

Read Full Post »

Makna Akhlak

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

“It’s better to be moralist rather than religious”. Lebih baik moralis daripada religious. Itulah salah satu cara orang liberal-sekuler-humanis membunuh agama. Di Barat sana agama memang pernah menjadi sumber fundamentalisme dan kekerasan. Disini di negeri-negeri Islam tidak. Tapi untuk bisa diberi cap yang sama, agama direkayasa agar melakukan kekerasan.  Ini misinya.

(more…)

Read Full Post »


Oleh: Kholili Hasib

Perilaku, karakter dan adab seseorang dikendalikan oleh pikiran. Alparslan Acikgenc, pakar filsafat Islam asal Turki mengatakan, pikiran itu menjadi motor perbuatan (Alparslan, Islamic Science Towards A Definition, hal.29). Baik buruknya perilaku dikendalikan oleh pemikiran manusia. Lebih detilnya diatur oleh keyakinannya. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan, untuk memperbaiki akhlak, seorang muslim harus melakukan riyadlah al-nafs – yaitu membersihkan hati, meninggalkan maksiat dan memperbanyak amal sholih. Membersihkan hati juga bagian pembersihan pemikiran dari ‘kotoran’. Imam al-Ghazali mengatakan, akhlak itu gambaran batin seseorang (Ihya Ulumuddin hal. 55). Batin, menggambarkan corak pemikiran seseorang.

(more…)

Read Full Post »


Kholili Hasib
ALUMNUS PROGRAM KADERISASI ULAMA (PKU), PESANTREN GONTOR PONOROGO
REPUBLIKA, 3 Februari 2012
Polemik tentang Syiah seperti yang dimuat beberapa kali di Harian Republika–menunjukkan bahwa penyelesaian masalah Sunnah-Syiah di Indonesia merupakan masalah yang penting. Karena itu, masalah ini menagih solusi secepatnya. Masing-masing pihak perlu menunjukkan sikap keterbukaan dan kejujuran. Polemik Haidar Bagir, Muhammad Baharun, dan Fahmi Salim, belum sepenuhnya menjernihkan masalah, bahkan penulis khawatir memunculkan lagi polemik-polemik yang tidak berkesudahan.

Read Full Post »

 

Kamis, 26 Januari 2012

Oleh: Kholili Hasib

SEMENJAK kasus Bangil 15 Pebruari 2011 -tahun lalu- hingga kasus Sampang 29 Desember 2011 baru-baru ini, Syiah menjadi sorotan publik. Beragam respon -baik dari tokoh maupun media- telah mengemuka, yang kesemuanya bisa menjadi alasan agar kita lebih membuka akar persoalan yang sesungguhnya. Kritik yang ditujukan kepada Syiah sejauh ini tampak masih rasional dan proporsional, sebagaimana yang telah ditulis oleh  Prof. Dr. Mohammad Baharun (Ketua Komisi Hukum MUI Pusat) di harian Republika pada (24/01/2012).

Data Ilmiah

(more…)

Read Full Post »

 

Kamis, 22 Desember 2011

Oleh: Kholili Hasib

UNTUK membangun peradaban mulia, ada dua tugas besar yang harus diemban ilmuan muslim. Yaitu, mempelajari konsep-konsep kunci dalam Islam dan mempelajari peradaban lain di luar Islam. Seperti  disampaikan oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil dalam orasi akhir tahun pada acara Musyawarah INSISTS Network di Trawas 18 Desember 2011 bahwa Ilmuan muslim harus memiliki dua ilmu; ilmu Islam dan ilmu tentang Barat. Ilmu tentang peradaban Barat perlu dipelajari, sebab tantang terbesar di abad ini adalah hegemoni ilmu Barat.

(more…)

Read Full Post »

Oleh: Kholili Hasib*

Perbedaan dalam alam pikir manusia yang merupakan sunnatullah haruslah disikapi dengan adil. Adil adalah menempatkannya pada koridor syariah, bukan rasio semata atau hawa nafsu.  Adanya perbedaan, bukannya menjadi dalil untuk membiarkan perbedaan itu berjalan secara liar dalam kehidupan manusia. Dalam Islam, terdapat otoritas yang mengatur persoalan keagamaan. Islam bukan seperti aliran postmodern yang kata Francois Lyotard anti-otoritas, tidak mengenal benar dan salah atau menurut Ernest Gellner curiga kepada kebenaran ilahiyyah.

(more…)

Read Full Post »

Older Posts »