Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Pluralisme’ Category

Oleh: Kholili Hasib*

Pendahuluan

Kajian studi perbandingan agama (religious study), masih tetap menyisakan problem. Sebagai disiplin ilmu yang menjadi minat utama para orientalis, framework kajiannya belum bersih dari cara pandang orientalisme, yaitu bersifat ambigu, bias dan tidak secara terang menjelaskan muatan ilmiah dan teologis. Dalam konteks ini, penggunaan term Abrahamic Faiths yang terlahir dari kajian studi perbandingan agama tentunya perlu ditinjau ulang. Saat isu-isu di dalam ‘agama Abrahamik’ dimasukkan dalam zone filsafat agama, maka konsepsi ketuhanannya menjadi rumit, bahkan rancu. Asumsi dasarnya, agama Yahudi, Kristen dan Islam masuk dalam wilayah agama monoteis pengikut Nabi Ibrahim as. Sehingga mereka dalam satu payung bernama Millah Ibrahim. Dari sinilah kemudian wacana teologi agama-agama tersebut dimasukkan dan dipaksa untuk masuk pada satu ruang dengan posisi setara. Jerald F. Dirks mengibaratkan; Yahudi, Kristen dan Islam hakikatnya berada pada satu pohon yang sama. Sehingga terdapat banyak unsur-unsur pemersatu dari pada unsur pembeda di dalamnya[1].

Kehadiran wacana term Abrahamic Faiths disambut baik oleh pengusung paham pluralisme, di antaranya Seyyed Hossein Nasr (1933 – ), tokoh filsafat perenial (al-Hikmah al-Khālidah) asal Iran. Hossein Nasr yang mempopulerkan gagasan Transcendent Unity of Rreligion(kesatuan transenden agama-agama) Frithjof Schuon (1907-1998) [2], membangun hujjah­­-nya dalam kerangka berpikir filsafat perenial. Pemilahan antara hakikat esoteric dan hakikat exsoteric merupakan isu utama filsafat perennial. Dalam hal konsep Abrahamic Faiths, tema utama hikmah abadi tersebut terstrukur dalam wacana ketuhanan. Argumentasinya, meskipun sebutan Tuhan agama Yahudi, Kristen dan Islam berbeda, akan tetapi secara esoteris ia menunjuk pada satu Dzat, yakni Dzat Tuhan yang disembah oleh Nabi Ibrahim as. Sebelum menguraikan pemikiran Hossein Nasr tentang konsep Abrahamic Faiths terlebih dahulu kita perlu mengenal worldview dan struktur pemikiran Seyyed Hossein Nasr.

Paradigma Pemikiran Seyyed Hossein Nasr

Seyyed Hossein Nasr, profesor bidang Islamic Studies di George Washington University, Washington DC adalah tokoh filsafat perenial yang mempopulerkan pluralisme agama beraliran Trancendent Unity of Religion. Nasr adalah pengagum Frithjof Schuon. Bahkan Schuon telah dianggap guru spiritualnya. Ia berasal dari keluarga cendekiawan penganut sufi beraliran  Syi’ah. Lahir pada tanggal 7 April 1933 di Teheran. Ayahnya, Sayyed Valiallah adalah seorang dokter untuk keluarga kerajaan Iran. Salah satu nenek moyangnya, Seyyed Mulla Muhammad Taqi Poshtmashhad, adalah seorang ulama’ terkenal di Iran, dan makamnya yang terletak di sebelah makam raja Safawi Shah Abbas, masih dikunjungi oleh peziarah hingga  hari ini[3].

Karir intelektual Nasr berhubungan dengan aspek utama hubungan antar agama dan sains. Tema karya-karyanya beragam mulai tentang filsafat, studi agama, seni, mistisism hingga sains, di antaranya; Islam and the plight of Modern Man, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines, Knowledge and the Sacred, Islamic Art and Spirituality, Islamic Life and Thought, Living Sufism, Man and Nature: The Spiritual Crisis in Modern Man, The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition, Science and Civilization in Islam, The Heart of Islam: Enduring Values for Humanity, Islamic Science: An Illustrated Study. Disertasi doktornya berjudul Conceptions of Nature in Islamic Thought diterbitkan pada tahun 1964 oleh Harvard University Press merupakan usaha dia dalam kontribusi sains Islam. Buku pertamanya Sience and Civilization in Islam mengenai gagasan sains Islam dan mengkritik sains modern.[4]

Selain bidang sains, ia tersohor sebagai pakar filsafat Islam. Nasr membaca dan mempelajari beberapa teks-teks utama filsafat Islam di bawah bimbingan al-Asfar Mulla Sadra dan Syarah-Manumah Sabziwari. Ia mendapatkan banyak manfaat dari wawasan yang sangat berharga dan komentar yang diberikan oleh mereka secara lisan. Dengan cara ini, Nasr memperoleh pendidikan baik dari Barat modern maupun tradisional Timur, kombinasi yang jarang yang menempatkannya dalam posisi yang sangat khusus untuk berbicara dan menulis dengan berbagai isu-isu yang terlibat dalam pertemuan antara Timur dan Barat.[5]

(more…)

Read Full Post »

Sabtu, 14 Mei 2011

Oleh: Dr. Adian Husaini

“Menjalin kerukunan, menjamin keyakinan.”  Itulah judul makalah yang saya sampaikan  dalam acara dialog lintas agama dan Sosialisasi Peraturan-Peraturan Kerukunan Umat Beragama, yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Wilayah DKI Jakarta, Senin, 18/4/2011, di Cipayung Bogor.

Kepada para peserta, saya menekankan, bahwa meskipun terjadi sejumlah kasus dalam soal hubungan antar-umat beragama, dan juga internal umat beragama, sebenarnya secara umum, wajah kerukunan umat beragama di Indonesia tetaplah “cantik.”  Kasus-kasus yang terjadi adalah ibarat “jerawat” di wajah yang cantik, yang perlu diselesaikan dengan baik; tetapi jangan sampai jerawat-jerawat itu terus-menerus dipelototi dan diekspose, untuk menutupi “wajah cantik” secara keseluruhan. Cara pandang semacam ini jelas tidak proporsional.

(more…)

Read Full Post »

Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi

Ada dua kesan yang terbersit dari wajah pendukung pluralisme agama: kontradiksi tapi percaya diri! Kontradiksi karena mulutnya berbunyi toleransi tapi sorot matanya menyiratkan relativisme. Percaya diri karena merasa berada di jantung wacana postmodernisme.

Sebenarnya, asal mula makna pluralism adalah toleransi. Dalam Oxford Advanced Learners’s Dictionary of Current English, terbit tahun 1948, makna itu jelas. Pluralisme adalah “suatu prinsip bahwa kelompok-kelompok bebeda tersebut dapat hidup bersama dalam kedamaian dalam satu masyarakat.” Tapi setengah abad kemudian prinsip berubah menjadi relativisme: curiga terhadap konsep “kebenaran”. Buktinya bisa dibaca pada Oxford Dictionary of Philosophy, oleh Simon Blackburn, terbit tahun 1995. Pluralisme adalah prinsip bahwa disana tidak ada pendapat yang benar, atau semua pendapat itu sama benarnya. Disinilah kontradiksi itu mulai nampak.

(more…)

Read Full Post »

Oleh: Adnin Armas

Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas tercatat sebagai salah satu pengkritik yang tajam terhadap gagasan Transentalisme (Trancendent Unity of Religions).  Bahwa, seolah-olah semua agama memiliki titik temu pada level transenden. Agama-agama hanya berbeda pada level eksoterik dan akan bertemu pada level esoterik. Intelektual Muslim yang menjadi keynote speakerdalam Konferensi Pendidikan Islam Pertama di Mekkah, 1977, ini  tidak asing dengan gagasan titik-temu metafisik agama-agama.

Al-Attas – selain menguasai banyak literatur tentang wacana titik-temu antar agama — juga mengenal secara personal tokoh-tokoh transendentalis seperti Frithjof Schuon, Martin Lings, Seyyed Hossein Nasr dan lainnya. Mereka sebenarnya saling kenal. Bahkan Seyyed Hossein Nasr pernah mengunjunginya di ISTAC, Kuala Lumpur, suatu lembaga pendidikan PascaSarjana dalam bidang pemikiran dan peradaban Islam, yang didirikan oleh al-Attas.

(more…)

Read Full Post »

Oleh: Tri Putranto

Adalah Sayyed Hossein Nasr, cendekiawan muslim yang lantang menggaungkan ide Islamisasi Sains. Nasr merepresentasikan konsep tradisionalisme dalam membendung hegemoni Sains barat modern yang sekular. Konsep tradisionalisme ini mengejawantah dalam pemikiran yang disebut: Scientia Sacra.   Meski mengusung ide Islamisasi Sains bukan berarti Nasr bebas dari kritik.

Berawal dari keinginan bahwa gagasan tradisionalisme akan mendudukkan kembali pada habitat kesakralan yang sempurna dan absolut. Sejatinya konsep tradisionalisme berakar dari apa yang disebut “Filsafat Perennial”. Tak dipungkiri filsafat ini dipelopori oleh para Master: Rene Guenon, Ananda Coomaraswamy serta Frithjof Schuon.

Bila ditelaah lebih jauh konsep Hikmah Abadi ini merujuk pada gagasan dari Agostino Steuco (1497 – 1548) lewat karyanya De Perenni Philosophia. Dan Steuco sangat dipengaruhi oleh Ficino, Pico della Mirandola serta Nicolas Cusa. Merangsek lebih dalam Philosophia Priscorum atau Prisca Theologia ini mengejawantah dalam gagasan Gemistus Pletho, seorang filsuf Byzantium yang merepresentasikan bahwa Zoroaster adalah guru pengetahuan kuno yang sakral yang menjadi cikal bakal Scientia Sacra. (more…)

Read Full Post »

Paham Pluralisme Agama

Oleh:Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi MEd, M.Phil

Pendahuluan

Diskursus mengenai paham pluralisme agama sebenarnya berada pada zone kosong. Sebab ia lahir diantara disiplin filsafat agama, sosilogi agama dan teologi. Ia menjadi tema sentral dalam sosiologi agama karena berkaitan dengan hubungan antar agama. Namun ia juga masuk kedalam disiplin filsafat agama dan teologi, karena materi pembahasannya menyangkut masalah ketuhanan, masalah moralitas baik-buruk dan sebagainya. Disiplin filsafat agama, seperti juga disiplin ilmu-ilmu lainnya pasti diwarnai oleh kondisi budaya dimana disiplin itu lahir dan berkembang. Dan karena disiplin ilmu ini dihasilkan oleh nilai-nilai budaya Barat maka ia terikat oleh nilai-nilai tersebut. Dalam disiplin sosiologi agama paham atau gagasan pluralisme agama berawal dari upaya mencari hubungan antara globalisasi dan agama atau upaya merespon globalisasi. Globalisasi adalah bagian yang tak terpisahkan dari adanya perkembangan teknologi komunikasi dan pesatnya arus ilmu pengetahuan dan informasi.  Oleh sebab itu maka diskurus mengenai pluralisme agama bisa merupakan bagia dari disiplin sosiologi agama dan bisa pula menjadi bahan pembahasan dalam filsafat agama.

(more…)

Read Full Post »

Oleh: Kholili Hasib

Mohammed Arkoun telah meninggal pada (14/09) lalu, tapi pemikirannya masih menjadi idola cendekiawan liberal. Buku terkenalnya, Rethingking Islam menjadi rujukan wajib mahasiswa jurusan Tafsir-Hadis IAIN dan UIN. Arkoun yang pernah mengennyam pendidikan di lembaga Kristen pada waktu remaja dianggap pembaharu (mujaddid). Padahal yang dilakukan bukanlah pembaharuan tapi pembongkaran agama.

(more…)

Read Full Post »

Older Posts »