Feeds:
Posts
Comments


Oleh: Kholili Hasib

 

Cita-cita Indonesia menuju Negara yang berperadaban, beretika dan religius tampaknya masih menemui jalan terjal. Apalagi resistensi itu dimunculkan oleh tokoh-tokoh agama dan bahkan pejabat kenegaraan. Keberadaan ormas yang memperjuangkan keadaban masyarakat Indonesia justru distigma negatif.

Continue Reading »


Kholili Hasib
ALUMNUS PROGRAM KADERISASI ULAMA (PKU), PESANTREN GONTOR PONOROGO
REPUBLIKA, 3 Februari 2012
Polemik tentang Syiah seperti yang dimuat beberapa kali di Harian Republika–menunjukkan bahwa penyelesaian masalah Sunnah-Syiah di Indonesia merupakan masalah yang penting. Karena itu, masalah ini menagih solusi secepatnya. Masing-masing pihak perlu menunjukkan sikap keterbukaan dan kejujuran. Polemik Haidar Bagir, Muhammad Baharun, dan Fahmi Salim, belum sepenuhnya menjernihkan masalah, bahkan penulis khawatir memunculkan lagi polemik-polemik yang tidak berkesudahan.

 

Kamis, 26 Januari 2012

Oleh: Kholili Hasib

SEMENJAK kasus Bangil 15 Pebruari 2011 -tahun lalu- hingga kasus Sampang 29 Desember 2011 baru-baru ini, Syiah menjadi sorotan publik. Beragam respon -baik dari tokoh maupun media- telah mengemuka, yang kesemuanya bisa menjadi alasan agar kita lebih membuka akar persoalan yang sesungguhnya. Kritik yang ditujukan kepada Syiah sejauh ini tampak masih rasional dan proporsional, sebagaimana yang telah ditulis oleh  Prof. Dr. Mohammad Baharun (Ketua Komisi Hukum MUI Pusat) di harian Republika pada (24/01/2012).

Data Ilmiah

Continue Reading »

Oleh, Kholili Hasib

Beberapa kalangan menyebut penganut Syi’ah di Indonesia berbeda dengan di Iran dan Irak. Salah satu diantaranya Prof. Dr. Nur Syam, Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya, di harian SURYA sabtu (31/12/2011) mengatakan bahwa Syi’ah di Indonesia telah ‘mengindonesia’. Beradaptasi dengan kultur Indonesia. Benarkah demikian?

Dalam konteks ini, menarik jika kita membaca hasil penelitian disertasi Prof. Dr. Mohammad Baharun, M.Ag di IAIN Surabaya tentang karakter Syi’ah Indonesia. Menurut Rektor Universitas Nasional Pasim Bandung ini, Syi’ah di Indonesia itu tidak monolitik. Meski begitu, penelitian Prof. Baharun selama bertahun-tahun itu menyimpulkan, bahwa mereka disatukan oleh satu doktrin esensial, yakni doktrin Imamah.

Ternyata, faktor perbedaan karakter Syi’ah di Indonesia itu bukan karena budaya, kultur keindonesiaan. Akan tetapi, tingkat pemahaman penganut Syi’ah terhadap doktrin Imamah itu yang melahirkan tipologi yang berbeda. Adapun faktor budaya dan kultur Indonesia hanya mewarnai kulitnya saja, tidak sampai kepada mengubah pandangan akidah, atau doktrin-doktrin utamanya. Kesimpulannya, pada dasarnya Syi’ah di Indonesia itu menurut Prof. Baharun sama dengan Syi’ah di Iran yakni Syi’ah Istna ‘Istna Asyariyah. Apalagi, penyebarannya dibawa oleh orang-orang Indonesia alumni Universitas Qom Iran.

Continue Reading »

SURABAYA (voa-islam.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur, KH Abdusshomad Buchori menyebut peristiwa pembakaran mushalla dan rumah penganut Syi’ah di Dusun Nangkrenang, Sampang, Madura, Jawa Timur sebagai bom waktu yang telah meledak.

Karenanya, MUI Jatim menyarankan agar pengikut kelompok itu dilokalisir atau dipindahkan ke tempat khusus. Selain untuk menghindari konflik berkepanjangan, juga karena kelompok itu mempunyai keyakinan berbeda yang mudah menyulut kemarahan warga. “Konflik itu akan terus terjadi, jalan keluarnya kelompok itu harus dipindah,” kata KH Abdusshomad Buchori, Kamis (29/12/2011).

Continue Reading »

 

Kamis, 22 Desember 2011

Oleh: Kholili Hasib

UNTUK membangun peradaban mulia, ada dua tugas besar yang harus diemban ilmuan muslim. Yaitu, mempelajari konsep-konsep kunci dalam Islam dan mempelajari peradaban lain di luar Islam. Seperti  disampaikan oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil dalam orasi akhir tahun pada acara Musyawarah INSISTS Network di Trawas 18 Desember 2011 bahwa Ilmuan muslim harus memiliki dua ilmu; ilmu Islam dan ilmu tentang Barat. Ilmu tentang peradaban Barat perlu dipelajari, sebab tantang terbesar di abad ini adalah hegemoni ilmu Barat.

Continue Reading »

Oleh: Kholili Hasib*

Perbedaan dalam alam pikir manusia yang merupakan sunnatullah haruslah disikapi dengan adil. Adil adalah menempatkannya pada koridor syariah, bukan rasio semata atau hawa nafsu.  Adanya perbedaan, bukannya menjadi dalil untuk membiarkan perbedaan itu berjalan secara liar dalam kehidupan manusia. Dalam Islam, terdapat otoritas yang mengatur persoalan keagamaan. Islam bukan seperti aliran postmodern yang kata Francois Lyotard anti-otoritas, tidak mengenal benar dan salah atau menurut Ernest Gellner curiga kepada kebenaran ilahiyyah.

Continue Reading »

Selasa, 29 November 2011

Oleh: Kholili Hasib,M.A

SATU hal penting yang perlu diambil pelajaran dari peringatan tahun baru Hijriyah adalah, saatnya melakukan perubahan peradaban. Momentum ini selayaknya menjadi generator untuk melakukan perbaikan peradaban yang lebih baik, menutup peradaban jahiliyah menuju pola peradaban yang mencerahkan. Kita patut mengambil ibrah secara mendalam dari peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari kota Makkah menuju Madinah. Bahwa, hijrahnya Nabi SAW itu sesungguhnya Hijrah Peradaban. Bukan hijrah Nabi SAW secara fisik yang kita pelajari, tapi spirit apa yang bisa diambil dari peristiwa bersejarah tersebut.

Continue Reading »

Tanggapan untuk Komaruddin Hidayat

 

Senin, 14 November 2011

Oleh: Kholili Hasib,M.A

KOMARUDDIN Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, belum lama ini menulis opini di harian KOMPAS (05/11/2011) berjudul “Keislaman Indonesia”.

Intisari dari tulisan tersebut adalah mengkritik prilaku Muslim Indonesia dan Negara-negara Arab yang disebut lebih mementingkan aspek ritual dari pada keslehan sosial. Sekaligus membandingkannya dengan Negara-negara maju non-Muslim yang dinilai lebih Islami.

Komaruddin Hidayat mengutip hasil riset Scheharazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University pada 2010 lalu tentang perilaku masyarakat Muslim. Penelitian itu menyebutkan, dari sebanyak 208 negara, Negara-negara Muslim anggota OKI rata-rata berada di urutan ke-139. Alias, Negara-negara sekuler perilaku masyarakatnya katanya lebih ‘Islami’ dari pada masyarakat Muslim.

Continue Reading »

Oleh: Kholili Hasib, M.A

Inpasonline.com, 22/10/11

Kenapa dunia Arab hingga kini masih sulit bersatu? Penyebabnya ideologi nasionalisme yang ditanam Prancis dan Inggris pada era kolonialisme masih kuat bercokol dalam dada pemimpin Arab daripada semangat pan Islamimisme.  Inilah yang diingini Barat. Tujuan finalnya adalah agar Liberalisasi diterima Arab.

Continue Reading »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.